SUGENG RAWUH

Jumat, 14 Mei 2010

#SADARKAH KITA#


MANUSIA BERLOMBA MENCARI DUNIA
LUPA PADA SANG MAHA PENCIPTA
APA YANG TERJADI
BENCANA DISANA
MUSIBAH DISNI

NAFSU MENJADI LANDASAN
KESERAKAHAN MENJADI ALAT
LUPAKAH MANUSIA
PADA TANAH YANG DIPIJAK
PADA LANGIT YANG MEMAYUNGI

MANUSIA BERJALAN DENGAN PIKIRANNYA
MENGACUHKAN SUARA HATI NURANI
SUARA DARI TUHAN PENCIPTANYA
SUARA KEBENARAN DAN KEMURNIAN

MUNGKINKAN PEPERANGAN TERJADI
MUNGKINKAN KELAPARAN TERSEBAR RAMAI
MUNGKINKAN BENCANA TETAP BERSEMI
JIKALAU MANUSIA LUPA MENGABDI
JIKALAU MANUSIA TIDAK BERSUJUD
PADA SANG MAHA ABADI

KEMBALILAH
DATANGLAH
BERSUJUDLAH
WAHAI MANUSIA
MENUJU TUHAN PENCIPTAMU

#Di Balik Detik Kehidupan#


Waktu adalah umur manusia, ia tersusun dari detik demi detik hingga meningkat menjadi menit lalu jam, hari, dan seterusnya. Hasan Al Bashri pernah berkata: "Wahai Bani Adam! Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Ketika hari telah berlalu,maka berlalu pulalah sebahagian dari dirimu"

Diantara sebab terpenting dari suksesnya para pendahulu kita dalam menapaki segala tantangan dan rintangan yang menghadang adalah kedisiplinan mereka mengisi waktu dengan menginterospeksi setiap detik yang berlalu. Lebih-lebih terhadap menit, jam ataupun hari. Maka pantaslah jika mereka (umat Islam saat Rasulullah masih hidup) menyandang gelar "Khoirul Ummah" (sebaik-baik generasi).

Demikian agungnya makna waktu dalam kehidupan manusia. Rosulullah SAW telah bersabda : "Tidaklah akan berpindah Kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ia ditanya Tentang empat perkara. Tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya, tentang jasadnya, bagaimana ia mempergunakannya tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan kemana ia menghabiskannya, dan tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya. (Ad Darimi: 538)

Manusia akan mempertanggungjawabkan sekecil apapun persoalannya di dunia ini. Maka sungguh mengherankan, bagaimana jam, hari dan tahun berlalu dengan sia-sia. Ibnu Mas'ud berkata: "Saya sangat membenci sekali, jika melihat seseorang yang leha-leha, tidak mengerjakan amalan untuk dunianya maupun untuk akhiratnya."

Begitulah para salaf ash sholih, mereka selalu mengisi umurnya dengan tekun, baik dengan perkara dien ataupun dunia, tanpa letih dan jemu. Waktu yang terkait dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah SWT.

"Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Adz. Dzariyat :56).

Ibadah kepada Allah tidak akan terwujud kecuali dengan penjagaan terhadap waktu. Jika seorang hamba memahami makna ibadah dan tujuan penciptaan makhluk, maka sudah pasti ia akan memahami pentingnya waktu. Dan jika waktu adalah barang yang berharga bagi orang yang berakal, itu tak lain karena waktu adalah umur manusia, sebuah kehidupan yang dimulai ketika saat kelahiran dan berakhir hingga detik-detik menjelang ajal.

#Surat buat Anakku#



Anakku yang kusayangi.... Pada suatu saat di kala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku.

Anakku yang kusayangi….

Pada suatu saat di kala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua,
cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku.

Jika banyak makanan yang tercecer di kala aku makan…,
jika aku mendapat kesulitan mengenakan pakaianku sendiri…, sabarlah !Kenanglah saat-saat di mana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu tentang segala hal yang kau perlu tahu, ketika kau masih kecil.

Jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali,
jangan menghentikanku ! Bersabarlah mendengarkan aku!
Ketika kau kecil, kau selalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulang-ulang, dari malam yang satu ke malam yang lain hingga kau tertidur,
dan aku lakukan itu untukmu!

Jika aku enggan mandi atau membutuhkanmu untuk memandikanku, jangan memarahiku, dan jangan katakan kepadaku bahwa itu memalukan!
Ingatlah berapa banyak pengertian yang kuberikan padamu menyuruhmu mandi di kala kecilmu.

Jika aku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
janganlah menertawaiku! Beri aku waktu lebih banyak untuk mengerti!
Renungkanlah bagaimana aku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan di saat kecilmu.

Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan, beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya, jangan sombong dan memarahiku, karena yang penting bagiku adalah… aku dapat bersamamu dan dapat berbicara padamu.

Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku!
Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tidak lapar.
Bersabarlah terhadapku….

Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku, untuk bergerak seperti sebelumnya…,
bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku,
mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu.

Pada suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup…,
ketika aku ingin mati…, jangan marah…!

Karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti.
Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu,
kita tidak benar-benar “hidup” lagi, kita hanya “tidak mati”.

Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat, aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.

Aku mengajarimu banyak hal…,
cara makan yang baik…,
cara berpakaian yang baik…,
berperilaku yang baik…,
bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan….

Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal di hadapanku melihat kondisiku dan usiaku yang sudah bertambah tua.

Kau harus ada di dekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu, seperti apa yang aku lakukan pada saat kau lahir.

Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran. Satu hal yang membuatku harus berterima kasih padamu adalah senyum dan cintamu padaku.

Aku mencintaimu, Anakku …..

Ayahmu, ibumu

#Untuk Kekasih#


Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim

Assalamu'alikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dear Rasulullah…


Entah bagaimana kabarmu kini Rasul, tapi kenapa yah, aku merasa bahwa kau tengah terlelap tidur tanpa mimpi-mimpi yang menjemukan dan mengganggu. Tak tega aku membangunkan dan mengganggu tidurmu rasul. Rasa-rasanya dengan melihatmu terlelap saja hilang sudah keluh yang hendak kusampaikan.

Mungkin engkau lelah menanggung beban selama 63 tahun. Dicaci, dihujat, dihina, dan disiksa oleh kaummu sendiri. bahkan oleh orang terdekatmu. Rasul, kiranya aku berada di sisimu pada saat itu, kuberikan tubuhku dan kehormatanku untuk menggantikanmu, dan melepaskan deritamu. Meski hanya sedikit, ya meski hanya sedikit. Tapi… akankah aku berada dipihakmu jika Allah menghendaki aku terlahir bersamaan dengan kerasulanmu? Jangan-jangan, malah akulah Abu Jahal, atau Abu Lahab saat itu? Ah, entahlah.

Perjalananmu bersama sahabatmu Abu Bakar sungguh memberikan inspirasi bagi ku. Adakah teman seperti beliau ya rasul? Konon sampai-sampai beliau rela pahanya dipatuk ular dan tak bergeming demi kecintaannya padamu, ketika engkau tengah merebahkan kepala mu dipangkuannya.

Kasihmu pada sahabat-sahabatmu tiada sesiapapun yang dapat menyamainya. Kiranya hanya cinta Tuhanmu dan cintamu sajalah yang mereka peroleh sungguh lebih dari cukup bagi mereka. Begitu ikhlas engkau mencintai mereka dan mereka mencintaimu. Hingga perisai tubuh pun rela mereka persembahkan demi menjagamu. Panah yang menghujam tubuh serasa panah cinta yang memberi kesenangan. Tombak yang menembus jantung, bagaikan sapaan bidadari yang memberi ketenangan. Sabetan pedang pun tak ubahnya seperti lambaian tangan surga yang menyapa. Janji darimu dan dari Allah tiada sedikit pun salah duhai Rasul.

Saat ini terngiang-ngiang sebuah ucapan yang begitu indah, seolah-olah aku dibawa ke dalam majelis mu rasul. Sami’na wa atho’na…. Kami dengar dan kami taat… Ucapanmu adalah titah bagi kami. Ucapanmu adalah petunjuk dari Tuhan kami. Ucapanmu adalah pembawa cahaya dalam gelap jalan kami. Mungkin itu yang dirasakan oleh para sahabat ketika mendengar ucapan dan titah darimu.

Rasulullah… utusan Allah, kekasih Allah, dambaan bagi siapapun di dunia ini yang memiliki keimanan dan kecintaan untuk berjumpa denganmu. Rasul, sedikit ada yang mengganjal di hati kecil ini ya rasul. Perkenankan aku mengungkapkan apa yang selama ini ingin kusampaikan, yah meski dengan beberapa carik kertas.

Sudah lebih dari seratus tahun semenjak engkau mangkat dari bias dunia ini. Selama itu pula banyak dari kami yang sebelumnya mengakuimu sebagai umatmu dan hamba Allah, Tuhanmu Tuhanku dan Tuhan kami, kini tengah kehilangan arah. Aku tak tahu apakah aku termasuk di dalamnya. Atas nama mu saudara-saudaraku mempraktekkan bentuk ubudiyyah yang bahkan dengan keterbatasan ilmu ku tidak pernah aku mendengar engkau memerintahkannya. Aku tidak tega untuk menyebutkan siapa dan apa yang mereka kerjakan. Semoga laknat mu tidak jatuh atas kami.

Bulu romanku berdiri ketika suatu ketika aku mendengar ada yang berkata bahwa di yaumil akhir nanti ketika kami, juga engkau dibangkitkan kembali oleh Sang Penguasa, dan dikala itu engkau berniat memberikan syafa’at kepada kami selaku umatmu, Allah menahan syafa’at mu itu. Bukan karena enggkau bersalah duhai bagindaku, bukan pula karena kelalaian permohonanmu, tetapi karena Allah memperingatkanmu dan memberitahukan kepadamu bahwa ada di antara kami yang beribadah tanpa ada contoh darimu. Dan ku lihat mukamu merah padam, urat lehermu menegang, bibirmu bergetar menahan marah, dan mungkin malu kepada Allah.

Dan engkau pun kekasihku, berpaling dari orang-orang itu. Tuhan… pencipta langit dan bumi, jangan biarkan dakwaan-Mu jatuh kepada hamba dan keluarga hamba…

Tak dapat ku banyangkan betapa engkau yang begitu penyabar dapat sedemikian marahnya. Satu yang dapat aku rasakan, mungkin kami telah keterlaluan terhadap risalah dan amanat yang kau titipkan kepada kami. Duh, malang nian nasib kami. Jangan marah ya Rasulullah, jangan berpaling dari ku kekasih Allah.

Rasul, kenapa yah baginda tak hidup hingga dapat mendampingiku menuju jalan Tuhanku. Apa karena kau tidak mencintaiku? Ataukah karena karena sebegitu percayanya engkau terhadap janji Allah bahwa akan ada di tiap umatmu yang akan membela dan mempertahankan kemurnian ajaranmu, ajaran kemuliaan, ajaran kedamaian, ajaran kesempurnaan, dan ajaran kebenaran??

Oh ya rasul, aku ingin mengutarakan suatu pernyataan kepadamu, bahwa aku begitu… mencintaimu. Kiranya Tuhanku bersedia menyelaraskan perkataan dan perbuatanku, duh, aku amat bersyukur sekali. Bukan apa-apa rasul, karena seperti Allah katakan melalui lidahmu bahwa Dia (Allah) tidak suka kepada orang yang hanya berkata-kata. Dengan kata lain, antara yang dikatakan dan yang dilakukan bertentangan. Aku tak dapat membayangkan bagimana jadinya orang yang mendapat benci dari Allah. Aduh… aku takut sekali. Tuhan tolong aku!!! Tunjukkanlah aku jalan menuju cinta-Mu, kasih rasul-Mu, meski jalan itu adalah jalan yang tidak menyenangkan, dan mengekang!!

Jika hanya dengan jalan itu aku dapat bertemu denganmu, juga tentu saja dengan Allah, kekasih nomor satu (wah rasul, kita sama-sama punya kekasih satu yang sama yah, kira-kira siapa yah yang paling mencintai Dia? Ah takut aku bila dibandingkan denganmu), maka jalan itulah yang kemudian akan aku tempuh, walau itu adalah hal terakhir yang harus kulakukan, maka akan kulakukan, dan kulalui jalan itu. Tiada daya dan kekuatan kecuali daya dan kekuatan milik-Mu semata, bukan begitu rasul?

Ternyata kata-kataku ini tidak dapat mewakili isi hatiku dan mengemas berjuta asa di benakku. Untuk itu rasul, kutitipkan salam melalui Allah berupa shalawat untukmu. Semoga shalawat itu pula yang dapat menerangi hatiku, yang dapat menumbuhkan kecintaanku kepadamu, yang dapat mengokohkan keyakinanku kepada Tuhanmu, Tuhanku; Allah Subhanahu wa ta’ala.

Terakhir rasul, maaf sekali jika aku sudah menyita waktu dan mengganggu istirahatmu. Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena menambah pikiranmu tentang urusan yang seharusnya tak lagi dibebani kepadamu. Selamat istirahat rasulku, . Kuharap dapat bertemu denganmu walau hanya sekedar dalam mimpi.



Salam cinta dan hormat untukmu Wahai kekasih ALLAH

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Minggu, 09 Mei 2010

Dan Aku Tersesat ke Jalan yang Benar ….


Setiap saat aku selalu memikirkan tentang langkah yang akan kuhadapi ini
Langkah yang aku tahu pasti merupakan suatu jalan yang benar
Langkah yang aku yakini sebagai hakikat sebenarnya dari seorang anak manusia

Tapi langkah ini tak semudah yang aku fikirkan
Tak seindah jalan yang akan kulangkahi itu..
Karena kutahu mereka menentang, karna mereka menganggapku tersesat dan telah mememilih langkah yang salah

Hmmm….. Aku terpuruk pada suatu keraguan,
Keraguan yang mengantarku menjadi orang yang bimbang
Dan aku menjalaninya dengan penuh ketidakpastian…
Hanya karena sebuah argumen yang sulit kupatahkan
Aku merasa bodoh, tolol karena ketidaktahuanku..karena kelemahanku..

Aku terus mencari. Dan mencari pembuktian yang menguatkan pendirianku..
Sampai akhirnya aku sadar..
Bahwa aku adalah aku,,,
Yang akan bertanggungjawab atas duniaku
Yang akan mengarungi kehidupanku,,,

Aku mulai melangkah lagi
Menuju jalan yang kuyakini kebenarannya
Kutak peduli dengan omongan mereka..
Karena madu dan racun yang akan menimpaku takkan pernah bisa diwakilkan kepada siapapun.
Tidak orang tuaku, tidak orang yang peduli padaku, sahabatku, dan tak pula mereka!!!

Biarlah aku melangkah mengarungi kehidupan yang kupilih…
Dan biarkan mereka mau berkata apa…
Aku tak peduli,,,
Walaupun mereka mengatakan aku telah tersesat…
Tapi bagiku tak mengapa..
Karena kuyakin, bahwa aku telah tersesat ke jalan yang benar…

Allah, make me strong on Your Blessing!!
I’ll walk along on Your Road…
Forever… until get Your Bless…
Dakwah… Wait For my dedication…

Jangan Pelihara Rasa benci


Suatu hari, ketika Nabi saw sedang berkumpul dengan para sahabat di dekat ka’bah, seorang lelaki asing lewat di hadapan mereka. Setelah lelaki itu berlalu, Nabi berujar kepada para sahabat, ”Dialah ahli surga.” Dan hal itu dikatakannya sampai tiga kali.

Atas pernyataan Nabi tersebut, timbul penasaran di kalangan para sahabat, terutama Abdullah bin Umar yang memang dikenal sangat kritis. ”Ya, Rasulullah,” tanya Abdullah, ”Mengapa engkau katakan itu kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah mengenalnya sebagai sahabatmu? Sedang terhadap kami sendiri yang selalu mendampingimu engkau tidak pernah mengatakan hal itu?”

Lalu sebagai seorang uswah, Nabi memberikan jawaban diplomatis yang sangat bijak. ”Jika engkau ingin tahu tentang apa yang aku katakan, silakan engkau tanyakan sendiri kepadanya.” Karena rasa penasarannya sangat tinggi, suatu hari Abdullah bin Umar menyengajakan diri untuk berkunjung ke rumah orang asing itu.

”Ya, akhie,” kata Abdullah, ”kemarin sewaktu engkau lewat di hadapan kami, Rasulullah mengatakan bahwa engkau seorang ahli surga. Apa gerangan yang menjadi rahasianya sehingga Rasulullah begitu memuliakanmu?”

Lelaki itu tersenyum, kemudian menjawab, ”Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak memiliki kekayaan apa-apa. Baik ilmu maupun harta yang bisa kusedekahkan. Yang kumiliki hanyalah kecintaan. Kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada sesama manusia. Dan setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu, sekaligus berusaha menghilangkan perasaan benci yang ada kepada siapa saja. Bahkan terhadap orang-orang kafir sekalipun.”

Memelihara perasaan benci dan marah, berarti menyimpan egoisme. Adanya perasaan benci, berarti adanya sikap untuk menyalahkan orang yang dibenci itu. Dan menyalahkan orang lain berarti membenarkan sikap dan tindakan sendiri.

Padahal sikap semacam itu sudah sejak awal diklaim syetan pada penciptaan Adam as. Kisah tersebut memberikan gambaran kepada kita, bahwa perasaan benci, bukan hanya mengakibatkan fitnah dan permusuhan, tetapi juga dapat menimbulkan penyakit batin yang sangat fatal, sekaligus menjauhkan diri dari surga yang menjadi dambaan setiap mukmin.

Sehingga sikap yang paling bijaksana adalah, selalu berusaha untuk mengintrospeksi diri, sekaligus menjadi orang yang pemaaf. Sebab itulah yang selalu dilakukan Nabi sepanjang perjalanan hidupnya. Sedangkan hidup Nabi adalah contoh bagi setiap mukmin. – ahi

BERCANDA ITU PENTING, TAPiiiii….


Menjadi penuntut ilmu yang gigih , pekerja yang ulet, pendakwah yang gigih dan pejuang yang militant, tidak berarti harus nihil dari canda. Bahkan pada batas tertentu, canda justru membantu terwujudnya aktivitas yang bermanfaat. Di sela-sela kerja berat, canda bias meringankan rasa penat. Saat menempuh perjalanan jauh, canda bias mengusir rasa lelah. Semangat yang kendor bias menguat pula dengan sentuhan sedikit canda. Ukhuwah yang kaku, dengan canda bias pula menjadi cair.


CANDA NABI dan PARA SALAF

Nabi saw adalah orang yang paling gigih dalam semua lini kebaikan, pun beliau seesekali bercanda juga. Namun beliau tidak bercanda dengan cara berdusta. Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “ Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bercanda dengan kami?” Beliau menjawab,”Betul, hanya saja aku tidak berkata kecuali yang benar.” (HR. Tirmidzi).

Hal yang sama dilakukan oleh para sahabat beliau yang setia. Abdullah bin Umar ra pernah ditanya, “Apakah para sahabat Nabi juga bercanda?”

Beliau menjawab,

“Ya, padahal iman di hati mereka sekokoh gunung”

Di kalangan ulama tabi’in, juga tidak sedikit yang terekam dalam kitab-kitab yang menunjukkan kesukaan mereka terhadap canda. Imam asy-Sya’bi pernah ditanya siapakah istri iblis, beliau menjawab, “ Itulah pernikahan yang aku tidak menghadiri resepsinya.”

Jadi bukanlah aib bila seorang penuntut ilmu juga sesekali bercanda. Tentu dengan menjaga adab-adab yang dibenarkan oleh sya’riat.

BUKAN SEMBARANG CANDA

Canda yang shalih tidaklah sama dengan canda para pelawak hari ini. Yang hanya bertujuan menghibur tanpa mempedulikan apakah kata-kata jorok, menjurus kepada sesuatu yang membangkitkan birahi atau tak sepi dari kata-kata umpatan, pelecehan dan kedustaan. Padahal sesuatu yang dosa tidak lantas berubah menjadi mubah dengan alasan bercanda.

Seperti becanda dengan dusta. Berbohong tetaplah dianggap berdosa meskipun hanya untuk bercanda. Bahkan Nabi saw memberikan ancaman khusus tetntang hal ini,
“Celakalah orang yang berbicara dusta dengan maksud agar orang-orang tertawa karenanya, calakalah ia… celakalah ia” (HR Abu Dawud)

Betapa mudahnya orang tergelincir dalam kubangan ini. Terlebih tatkala gurauan mencapai puncak semangat meladeninya. Kebiasaan ini sulit berubah, kecuali masing-masing tak segan untuk mengerem dan mengingatkan jika canda telah mengarah kepada dusta.

Tidak boleh pula bersenda gurau yang mengandung unsur pelecehan terhadap Allah, Nabi saw dan juga syari’at Islam, bahkan ini termasuk pembatal keislaman, sebagaimana firman Allah,
Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.”(QS. At-Taubah 65-66)

Tidak boleh pula berkelakar yang mengandung unsur penghinaan dan ghibah terhadap saudaranya., baik dalam bentuk ucapan maupun menirukan dengan anggota badan dengan ucapan melecehkan. Semua tindakan itu tetap diharamkan, meskipun dengan alasan bercanda.

Begitupun dengan canda yang membahayakan nyawa, atau menakuti-nakuti saudaranya, Seperti mengacungkan senjata kepada saudaranya agar dia ketakuatan dan gelisah. Nabi saw bersabda,
“Tidak halal seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR Abu Dawud)

BECANDA SEKEDARNYA SAJA

Canda yang boleh, hendaknya dilakukan sekedarnya saja. Canda itu ibarat garam bagi makanan, jika terlalu banyak, akan merusak cita rasa. Maka orang yang terlalu banyak bergurau akan jatuh banyak kewibawaannya. Apalagi jika dia seorang yang alim, mubaligh, da’I atau pemimpin. Sa’ada bin Abi Waqash berkata, “Iritlah dalam bercanda, karena terlalu banyak bercanda bias menjatuhkan wibawa, orang-orang bodohpun akan melecehkanmu.”

Kebanyakan canda juga membuat hati menjadi keras. Dalam Shahih al-Jami’ disebutkan hadist Nabi saw
“Janganlah kamu terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa itu bias mematikan hati.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan, “hasan)

Selagi canda yang kita lakukan mengandung manfaat, tidak melanggar syari’at, sesuai dengan orang dan moment yang tepat, juga dengan kadar dan takaran yang proporsional, maka canda itu bias mendatangakan kebaikan. Tapi, jika adab-adab itu diabaikan, maka yang didapatkan adalah permusuhan, kerasnya hati, hilangnya wibawa dan bahkan sangat mudah terpeleset kepada dosa, sementara dia tidak meyadari. Nas’alullahal ‘afiyah…

Pertanyaanya: Bagaimana konsep bercanda kita selama ini???? Sudahkah kita bercanda dengan cara islami???

Sumber: Majalah Islam Ar-Risalah, Syawal-Dzulqo’idah 1430H

Jumat, 07 Mei 2010

Dosa gugur apabila Suami-Isteri Bersalaman


RASULULLAH saw bersabda, yang bermaksud: "Seorang isteri yang bermuka muram di hadapan suaminya, maka ia dalam kemurkaan Allah hingga ia dapat membuat suasana yang riang gembira kepada suaminya dan memohon kerelaannya. "
Begitulah besarnya harga senyuman seorang isteri kepada suaminya kerana senyuman akan mencetuskan suasana kegembiraan yang sebenarnya dikehendaki suami ketika pulang dalam keletihan.
Muka yang masam bukan saja akan menimbulkan kemarahan suami, malahan menyebabkan Allah turut murka dan kemurkaan Allah itu berkekalan hingga isteri berjaya mengembalikan suasana gembira serta memohon keampunan daripada suami.

Sesungguhnya keredaan Allah terletak pada keredaan suami. Justeru, apabila suami pulang segeralah bukakan pintu, persilakan masuk dengan penuh hormat dan ciumlah tangan suami sebagai tanda hormat serta meminta maaf, walaupun isteri merasakan tidak berbuat sebarang kesalahan pada hari itu..
Sebuah hadis ada menyebut bahawa apabila seorang suami bersalaman dengan isterinya, maka gugurlah segala dosa dari celah-celah jari mereka berdua.
Andai mempunyai anak-anak, ajarlah mereka itu untuk selalu bersalaman dengan ayahnya kerana kelaziman akan memupuk rasa kasih dan hormat anak-anak kepada orang tua.
Kebahagiaan rumahtangga terletak pada akhlak dan budi pekerti isteri. Biarpun seorang isteri itu tidak cantik tapi jika cukup sempurna layanannya terhadap suami dan berakhlak pula, tentu ia akan menjadi penghibur dalam rumahtangga.

Oleh itu wahai isteri, hendaklah berlOmba-lomba untuk menjadi seorang isteri yang solehah, yang bertakwa, berakhlak mulia dan taat kepada suami.
Rasulullah bersabda, yang bermaksud: "Sungguh-sungguh memintakan ampun untuk seorang isteri yang berbakti kepada suaminya, iaitu burung-burung di udara, ikan-ikan di air dan malaikat di langit selama dia sentiasa dalam kerelaan suaminya."
Jika seorang isteri mengharap cintanya berbalas, maka banyakkan mencari keredaan Allah melalui keredaan suami.

============ ========= ========= ========= ========= =====
Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :
"Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan, Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu, Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu, ..dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu."

Kamis, 06 Mei 2010

BUAH KEJUJURAN

Aku tidak tahu, perasaan apa yang melandaku hari ini, gembira memang jelas aku sangat gembira, tapi sedih juga iya. Karena sudah lama hal ini ku tunggu, siapapun akan merasakan hal yang sama denganku. Setelah shalat zuhur, atasan ku memberi kabar, katanya sih kabar gembira, tapi setelah beliau menyerahkan amplop berwarna coklat dan aku membukanya, aku justru kaget tak terkira, aku kecewa, sedih, aku merasa terbuang.Anton ...selamat ya ...kamu dapat SK, itu ucapan atasan ku waktu itu, tapi beliau tidak mengatakan isi amplop itu yang katanya ada SK. Aku menerimanya dengan hati berbunga bunga, bagai terbang ke awan, melayang di udara, seperti tak berpijak di bumi lagi, karena aku yakin, aku akan dapat promosi jabatan, karena aku merasa pekerjaan ku selalu selesai dengan baik, banyak karya ku yang membuat perusahaan tempatku bekerja mendapat order yang banyak. Begitu aku buka amplop berwarna coklat, yang tertulis kepada yth. Saudara Anton, aku langsung lemas, seperti tidak makan beberapa hari, kaki ku kaku bagai tertancap di bungkahan es, hatiku remuk bagai dipukul dengan palu, aku merasa disingkirkan atau dibuang, mataku tidak terasa mengeluarkan air mata.

Memang selama ini aku tidak pernah mendapatka ucapan selamat apalagi bonus dari atasanku atas kesuksesan perusahaan tempat aku bekerja, bahkan aku tidak pernah melihat eksprisi wajah atasanku yang menunjukkan kegembiraan, apalagi aprisiasi, jadi prestasiku selama ini tidak dianggap oleh atasanku. Bahkan aku sering dimarahi, karena hanya masalah sepele, kalau dibandingkan hasil karyaku dengan kesalahanku, aku berani bersumpah sepuluh banding satu (Mungkin lebih). Bahkan pernah rekan kerjaku yang membuat kesalahan, tapi atasanku menimpakan kemarahannya kepadaku.Kenapa kamu tidak kasih tahu Rudy, bagaimana membuat yang benar...., begitulah ucapkan atasanku, waktu itu dengan suara yang hampir berteriak sambil menggebrak meja.Bagaimana aku memberitahu Rudy, dia seniorku dan anak pejabat di daerah ini…, aku membatin. Dalam perjalan pulang ke rumah, hati ku bergemuruh, ada apa dengan ku, apa salahku, apa dosa ku. Memang aku tak mempunyai seseorang yang bisa diandal yang bisa membantuku, tidak ada yang membelaku. Dan aku pun bukan type yang mencari muka, menjilat, dengan memuji muji atasan, aku apa adanya, aku kerjakan apa yang seharusnya ku kerjakan, bahkan aku banyak membantu pekerjaan teman temanku, tapi aku akan menolak atau membantah kalo itu bertentangan hati nuraniku, apalagi kalo sudah berlawanan dengan norma agama. Aku tidak peduli apakah itu atasan ku.

Memang susah dizaman yang sudah edan ini, kejujuran dianggap dongeng pengantar tidur bagi anak anak. Padahal Nabi saw pernah bersabda: “ katakan yang haq meskipun itu pahit”, memang memegang kejujuran itu berat. Dilain waktu Nabi saw bersabda: ” nanti akhir zaman, memegang teguh ajaran agama, bagaikan memegang bara api”.Dulu guru ngajiku menasehati ku: “berlaku jujurlah, buah dari kejujuran adalah kebahagian”, aku pegang teguh nasehat guru ngajiku itu, namun sekarang kejujuran ku berbuah pahit.Sesampainya di rumah, aku langsung berbaring, tanpa melepas sepatu, tidak ganti baju, melihat perbuatan ku ini, ibuku menghampiri: “ada apa nak” tanya ibuku, aku tidak menjawab pertanyaan ibuku bahkan aku tidak menoleh, nak Anton...katakanlah ada apa…, ibu tahu kamu pasti ada masalah..., aku tetap tidak menjawab, hanya menyerahkan amplop berwarna coklat itu. Setelah ibuku membuka dan membacanya, ibuku justru tersenyum, bahkan hampir tertawa.Nak ..Anton, yang namanya hidup itu, tidak selalu mulus seperti keinginan kita, selama kita masih hidup, masalah itu selalu ada, dan kita tidak bisa lari daripadanya, namun bagaimana kita menyikapi masalah tersebut, justru dengan masalah itu Allah akan menaikkan derajat kita, asal kita sabar, dan selalu tawakkal, karena semua itu ujian bagi kita, orang bijak mengatakan: tidak ada pelaut ulung kalo hanya berlayar di laut tenang. Dan juga Allah berfirman dalam Surah al Baqarah, ayat 155: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buhan. Dan beritanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar”.Dan anakku jangan lah kamu menyikapi ujian Allah itu dengan perasaanmu saja, mungkin kamu membenci sesuatu, padahal itu baik (disisi Allah), kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik (menurut Allah), karena kamu tidak tahu, apa hikmah dibalik itu semua. (QS. Al Baqarah: 216). Nasehat ibu ku aku camkan, aku hayati.Tapi ini tidak adil bu…Apanya yang tidak adil…?Atasan ku itu yang tidak adil…Tidak adil bagaimana….? Begini bu atasanku itu tidak pernah memperhatikan hasil pekerjaan anak buahnya, yang dia pehatikan hanya orang orang yang suka cari muka, yang suka memuji, atasanku selalu berpihak kepada orang orangnya saja, walau orang orangnya kerjanya malas, atau pekerjaannya tidak selesai bahkan ada yang tidak bisa bekerja dia tidak pernah memarahi, tapi kalo anak buahnya yang lain, meskipun pekerjaannya baik dan selesai tepat waktu dia tidak pernah memberikan penghargaan, atau jangan memarahi saja itu sudah cukup, tapi nyata dia justru cari cari kesalahan untuk memarahi.

Saya dapat SK pindah ini juga karena dia melaporkan ke kantor pusat, saya dianggap tidak loyal, suka membangkang, tidak bisa bekerja, saya tahu ini dari teman saya yang ada di kantor pusat. Dia selalu membagakan selama kepemimpinannya perusahan berhasil, laporan tepat waktu. Jadi order yang banyak dan laporan yang selalu tepat waktu itu siapa yang membikin, apakah dia tidak tahu, itu semua pekerjaan saya bu…,Nak Anton…, kamu harus sadar pekerjaan mu itu walau atasan tidak memberikan penghargaan, atau bahkan dia menyikapi sebaliknya, kamu tidak usah dipikirkan, Tuhan maha melihat apa yang hambaNya lakukan, serahkan kepada Tuhan. Bekerjalah dengan niat ibadah insyaallah ada nilainya disini Tuhan, walau tidak ada nilai disisi manusia, tentang kepindahan kamu, seperti yang ibu katakan tadi tentu ada hikmahnya, yakin lahIya..bu…Kamu sudah shalat belum …?Sudah bu….,Kalo begitu makan dulu, ibu sudah siapkan makanan kesukaanmu sop kikil…

Empat Kunci Rumah Tangga Harmonis


Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.

Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.

Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan.

Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.

Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka.

Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga.keempatnya adalah:

1. Jangan melihat ke belakang

Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.

Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.

Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.

2. Berpikir objektif

Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga tidak secara utuh.

Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.

Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian.

Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus melatih kemandirian anak-anak.

3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya

Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan sudut pandangnya.

Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.

Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.

4. Sertakan sakralitas berumah tangga

Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.

Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.

Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan. Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!

Selasa, 04 Mei 2010

TAWASSUL


At tawassul secara bahasa artinya mendekatkan diri dengan sesuatu amal (Al Misbahul Munir, 2/660). Bisa juga dimaknai dengan berharap (ar raghbah) dan butuh (Lihat Al Mufradat fi ghoribil Qur’an, 523). Terkadang juga dimaknai dengan “tempat yang tinggi”. Sebagaimana terdapat dalam lafadz do’a setelah adzan: “Aati Muhammadanil wasilata…”. Disebutkan dalam Shahih Muslim bahwa makna “Al Wasilah” pada do’a di atas adalah satu kedudukan di surga yang hanya akan diberikan kepada satu orang saja.
Ringkasnya, tawassul secara bahasa memiliki empat makna: mendekatkan diri, berharap, butuh, dan kedudukan yang tinggi.

Di antaranya dalam firman Allah:

"…dan memohon wasilah untuk mendekatkan diri kepada Rabb mereka."

Tawassul dibagi menjadi dua: Tawassul yang disyariatkan, dan tawassul yang dilarang.

Tawassul yang disyariatkan yaitu:

Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang Dia cintai dan Dia ridhai berupa ibadah-ibadah yang wajib dan sunnah, baik berupa ucapan, perbuatan atau keyakinan.

Bentuknya bisa bermacam-macam:

Pertama:Ber-tawassul kepada Allah dengan Asma dan Shifat-Nya.

Allah berfirman:

"Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalakanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."(QS. Al-A'raaf : 180)

Caranya, seorang hamba ketika berdoa kepada Allah, terlebih dahulu menyebutkan nama-Nya yang sesuai dengan permintaannya; seperti menyebutkan nama Yang Maha Pengasih (Ar-Rahmaan), ketika ia meminta belas kasihan; atau menyebut nama Yang Maha Pengampun (Ghafuur), ketika memohon ampunan, dan sejenisnya.

Yang kedua: Bertawassul kepada Allah dengan iman dan tauhid.

Allah berfirman:

"Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah). " (QS. Ali Imraan : 53)

Yang ketiga: Bertawassul dengan amal shalih.

Yakni dengan cara seorang hamba memohon kepada Rabb melalui amalan paling ikhlas yang pernah dia lakukan, yang bisa diharapkan, seperti shalat, puasa atau membaca Al-Qur'an, atau kesuciannya dalam menjaga diri dari maksiat dan sejenisnya. Di antaranya seperti yang disebutkan dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim tentang kisah tiga orang yang masuk gua, tiba-tiba pintu gua tertutup oleh batu besar. Lalu mereka berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amalan-amalan mereka yang paling diharapkan pahalanya.

Termasuk di antaranya bila seorang hamba bertawassul kepada Allah dengan kefakirannya, sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Ayyub 'Alaihissalam:

"Inni Massaniadh-Dhurru wa Anta Arhamurrahimin."
(Sesungguhnya aku telah mengalami kesengsaraan dan Engkau adalah Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih..)

Atau dengan pengakuan seorang hamba terhadap kezhalimannya dan kebutuhan dirinya terhadap Allah sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Yunus:

"Laa Ilaaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minazh zhalimin."
(Tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Engkau; Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim..)

Tawassul-tawassul yang disyariatkan inipun berbeda-beda hukumnya yang satu dengan yang lainnya. Ada yang wajib, seperti tawassul dengan menyebutkan nama dan sifat Allah atau dengan tauhid. Ada juga yang disunnahkan, seperti tawassul dengan menyebutkan amal shalih.

Adapun tawassul yang dilarang dan bid'ah itu adalah:

Bertawassul kepada Allah dengan hal-hal yang tidak disukai dan tidak diridhainya, berupa ucapan, perbuatan dan keyakinan. Di antaranya tawassul dengan berdoa kepada orang-orang mati atau orang-orang yang tidak hadir, memohon keselamatan dengan perantaraan mereka, dan sejenisnya. Semua perbuatan itu adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam dan bertentangan dengan tauhid.

Berdoa kepada Allah, baik dalam bentuk doa permohonan seperti meminta sesuatu dan meminta diselamatkan dari bahaya: atau doa ibadah seperti rasa tunduk dan pasrah di hadapan Allah, kesemuanya itu tidak boleh dialamatkan kepada selain Allah. Memalingkannya dari Allah adalah syirik dalam berdoa. Allah berfirman:

"Dan Rabbmu berfirman:"Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina…" (QS. Al-Mukmin : 60)

Allah menjelaskan dalam ayat di atas ganjaran bagi orang yang enggan berdoa kepada-Nya, bisa jadi dengan berdoa kepada selain-Nya atau dengan tidak mau berdoa kepada-Nya secara global dan rinci, karena takkbur atau sikap ujub, meski tak sampai berdoa kepada selain-Nya. Allah juga berfirman:

"Berdoalah kepada Allah dengan rasa tunduk dan suara perlahan.."

Dalam ayat ini Allah memerintahkan berdoa kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya. Allah berfirman menceritakan ucapan Ahli Neraka:

"Demi Allah, sungguh kami dahulu (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata; tatkala kami menyamakan kalian dengan Rabb sekalian makhluk."

Segala bentuk penyamaan Allah dengan selain-Nya dalam ibadah dan ketaatan, maka itu adalah perbuatan syirik terhadap-Nya. Allah berfirman:

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do'anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka. " (QS. Al-Ahqaaf : 5)

"Dan barangsiapa yang menyeru sesembahan selain Allah, sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabb-nya, sesungguhnya tidak akan beruntung orang-orang yang kafir."

Allah menganggap orang yang berdoa kepada selain-Nya, berarti telah mengambil sesembahan selain-Nya pula. Allah berfirman:

"Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.(QS. Faatir : 13-14)

Allah menjelaskan dalam ayat ini, bahwa Dia-lah yang Maha Berkuasa dan Mampu mengurus segala sesuatu, bukan selain-Nya. Bahwasanya para sesembahan itu tidak dapat mendengar doa, apalagi untuk mengabulkan doa tersebut. Kalaupun dimisalkan mereka dapat mendengar, merekapun tidak akan mampu mengabulkannya, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau memberi mudharrat, dan tidak memiliki kemampuan atas hal itu.
Sesungguhnya kaum musyrikin Arab di mana Rasulullah Shallalhu 'Alaihi Wassalam diutus, mereka menjadi orang-orang kafir karena kemusyrikan mereka dalam berdoa. Karena mereka juga berdoa kepada Allah dengan tulus ketika mendapatkan kesulitan. Kemudian mereka menjadi kafir kepada Allah di kala senang dan mendapatkan kenikmatan dengan cara berdoa kepada selain-Nya. Allah berfirman:

"Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih."

Allah juga berfirman:

"Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta'atannya". (QS.Yunus : 22)

Kemusyrikan sebagian orang pada masa sekarang ini bahkan sudah melampaui kemusyrikan orang-orang terdahulu. Karena mereka memalingkan berbagai bentuk ibadah kepada selain Allah seperti doa, meminta keselamatan dan sejenisnya hingga pada saat terjepit sekalipun. Laa haula walaa quwwata illa billah. Kita memohon keselamatan dan keberuntungan kepada Allah.
Kesimpulan : untuk membantah yang dituturkan oleh teman Anda itu bahwa meminta sesuatu kepada mayyit adalah syirik. Bahkan meminta kepada orang hidup dalam batas yang hanya mampu dilakukan olehnya-pun juga termasuk syirik. Wallahu A'lam.

..:: titip RINDU-ku buat -dia- ::..

Bismillah....

Ah...
Ada apa dengan hati?? Terlalu dini aku harus memikirkannya. Hanya ku anggap debu yang terbawa angin dan mampir sekejap saja. Segera ku menyekanya dengan saputangan dalam angan. Aku hanya ingin menetralisir rasa agar steril dari semua yang ku anggap tak penting untuk sekedar hinggap.

Lain waktu, eh...kembali datang. Angin memang tak pandang membawa apa dan harus mampir dimana, angin memang pemurah, memberi tumpanan pada siapa saja dan pada apa saja. Kali ini mampir lagi, namun ku seka sedikit saja, ku katakan pada diriku, nanti akan ku basuh biar lebih cemerlang...hohoho...aku pun tersenyum dan mengalihkan fikiran.

Kali ini, aku tak kuasa. Yang diserangnya adalah organ yang berkaitan dengan seluruh rasa. Menyerang otak, fikiran, dan tentunya di manalagi kalau bukan tempat penuh humus untuk bercocok tanam dan menyemai rasa yaitu HATI. Waaaaaahhh....jangan gilaaaaa duuuunnnkkkk...!!! aku tak kuasaaaaa..., terlalu beraaatttzzz!!!. Bibirku berucap istighfar terus melawan fikiran yang sedari tadi selalu terbayang rasa.

Huuuuffffhhh... kali ini aku mendesah, lemah namun pasti. Ya Tuhan, apa yang mendera?? Sempat terfikir bahwa aku harus mengakuinya, toh tak ada yang terdzolimi dengan apa yang kurasa, karena semua manusia di dunia pasti juga merasakannya. Aku tak harus berbohong untuk sesuatu yang wajar bagi logika, ya logika kita sebagai manusia. Aku harus berani mengakuinya, rasa itu ada karena satu kata penuh makna, yaitu ‘cinta’. Ah...lega rasanya, sudah kuteriakkan dalam hati...hehe walaupun –dia- tak mendengarkannya.

Baiklah, kali ini aku berdamai dengan rasa. Ya Allah...Engkau tak hanya memberikan rasa sedih dan senang pada setiap hamba, namun Kau berikan juga semua rasa. Pelangi itu terlalu indah untuk dihapuskan, namun takkan indah jika terlukis paksa tanpa ridho dariNya. Allah..-dia- yang kau cipta, dalam pandanganku biasa saja, apa adanya, satu hal yang ku suka bagus agamanya, hmmmmm.... tapi, ada tapinya ya Allah,,,’apakah demikian dalam padanganMu???’. Ah...aku tak mau menerka-nerka. Biarlah waktu yang akan menentukan arahnya dan memberi jawab sesuai kehendak Yang Kuasa.


Allah...Kau tahu sejauh mana bentuk ikhtiarku, namun...aku tak berani memastikan sejauh mana –dia- berikhtiar, karena itu semua rahasia. Allah...aku tak berani melangkah tanpa kehendakMu, tak berani memelihara rasa tanpa seizinMu, maka biarlah kusimpan sejenak atau selamanya. Allah...Kau Berkuasa atas Segala Rasa, maka satu yang ku pinta



titip RINDU-ku buat -dia-


note : saudaraku seiman, tak ada yang menyalahkan kau memiliki rasa ‘cinta’, akan lebih afdhol ketika rasa itu di tujukan bagi Sang Pemberi Rasa, namun jikapun nantinya kau ingin membagi rasa, maka siapkan porsi seadanya, namun tetap porsi JUMBO hanya untukNya...selamat menikmati rasa

Bukan Permata Biasa


Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.

Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.

Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. "Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban."

Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. "Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku." Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, "Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini." Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, "Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku."

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da’i besar di kota Madinah.

Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan "bukan permata biasa". (Ummu Asyrof dari kumpulan kisah nyata, Abdur Razak bin Al Mubarak)

disalin dari Jilbab.Online

Sabtu, 01 Mei 2010

A Reflection


Sesungguhnya hitungan nafas telah ditetapkan, hitungan detik telah diperhitungkan.
Sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi modal tapi tidak digunakannya,
Sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi nafas tapi disia siakannya,
sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi waktu tapi disia siakannya
=================================================


Demi Allah, sesungguhnya semakin dekat ujung kehidupan kita, Hisab semakin nyata, dan sesungguhnya Hisab Allah amatlah berat, Janganlah sia siakan nafas kita, jangan sia siakan waktu kita, Sesungguhnya Hanya Allahlah tujuan kita. Perjalanan hidup manusia, menempuh alam dunia menghabiskan waktu, yang tiada lama. Usia bertambah makin senja, tiada terasa tak tersadar. Semakin dekatlah kematian, akan menjelang tiba.

Sadarilah, usia amanah dari Ilahi
Sadarilah, ia pasti kan dimintai
Pertanggung jawabannya pada Ilahi
Sadarilah, jalani hidup ini penuh makna
Sadarilah, pastikan ia berarti diakhirat yang abadi

Wahai Tuhanku, apa yang hamba perbuat selama ini berupa perbuatan perbuatan yang Paduka larang hamba melakukannya, sedangka hamba belum bertaubat dari padanya dan Paduka tidak meridhainya dan tidak melupakannya, dan Padukapun telah menyayangi hamba setelah Padukapun kuasa untuk menyiksa hamba, kemudian Paduka menyeru hamba untuk bertaubat setelah hamba bermaksiat kepada Paduka. Karena itu, hamba mohon ampunan dari Paduka, maka ampunilah hamba dengan Anugerah-Mu.

Dan apa yang telah hamba kerjakan selama ini adalah berupa perbuatan yang Paduka ridhai dan Paduka janjikan pahala atasnya, Hamba mohon pada-Mu wahai Tuhanku, Dzat Yang Maha Mulia, yang memiliki Kebesaran dan Kemuliaan, agar Paduka terima amalan hamba dan jangan hendaknya Paduka putuskan harapan hamba dari-Mu, wahai Dzat Yang Maha Mulia.

Wahai Tuhanku, Paduka adalah Dzat Yang Maha Kekal, dahulu dan Awal. Hanya denga anugrah dan kemurahan-Mu yang agung, telah datang tahun kedepan usiaku. Di tahun ini kami memohon pemeliharaan-Mu dari Syetan, kekasihnya dan balatentaranya, dan kami memohon pertolongan-Mu atas hawa nafsu yang mengajak kepada kejelekan, dan kami memohon kesibukan dengan perbuatan yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.

Amiin ya robbal ‘alamiin

Teman Sejati


Saat ini saya baru saja mendapat kunjungan seorang teman lama dari jauh, namanya Widyarto.
Saya mulai berteman dengan Widyarto sejak kuliah dan sampai saat ini kita terus berteman.
Meski saya pendiam dan bukan orang yang suka ngobrol, tapi terkadang ada keinginan yang mengebu2 untuk bertemu dengan seseorang dan berinteraksi dengannya.

Menurut buku2 yang telah saya baca, manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendirian. Jadi manusia selalu membutuhkan seorang teman dalam hidupnya. Tetapi payahnya, kita seringkali susah untuk mendapatkan teman yang selalu ada disaat suka dan duka. Kebanyakan mereka selalu ada saat ada maunya, seperti minta ditraktir, mau pinjem barang kita, atau yang parah mau pinjem duit ke kita :)
Sebenarnya teman yang baik adalah seseorang yang berani mendampingi kita dan membela kita disaat semua orang menjauh dari kita... :)

Saya tertarik mengangkat tema ini, karena saya sangat prihatin dengan kelakuan adik2 saya yang saya lihat di teve suka tawuran antar sekolah, yang bangga ikut konvoi kelulusan padahal dia sendiri ga lulus, mudah terbuai dengan rayuan teman baru di fb sehingga mau diajak minggat dari rumah, dan masih banyak lagi. Marilah kita renungkan apa sih yang kita mau dari seorang teman dan apa ciri2 teman yang baik.

Empat macam teman yang baik:

1. Seorang teman yang mampu membantu di dalam berbagai cara ,
2. seorang teman yang mempunyai rasa simpatik baik di dalam suka maupun duka ,
3. seorang teman yang memperkenalkan kita pada hal-hal yang berguna ,
4. seorang teman yang memiliki perasaan persahabatan.

Empat Macam teman palsu:

1. Mereka yang mengajak berkawan untuk tujuan menipu ,
2. mereka yang hanya manis di mulut saja ,
3. mereka yang memuji-muji dan membujuk ,
4. mereka yang mendorong seseorang untuk menuju ke jalan yang membawa pada kerugian dan kehancuran.

Sebelumnya marilah kita merenung sejenak. Kita menginginkan mempunyai teman yang setia, yang dapat berbagi dengan kita, yang mengerti kita… Namun pertanyaannya, apakah kita sudah menjadi seperti itu?

Apakah kita sudah menjadi teman yang setia di segala keadaan? Sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk teman kita? Maukah kita mengerti teman-teman kita?

Mari kita renungkan. Siapa yang akan memulai semua itu kalau bukan kita? Orang lainkah? Haruskah kita menunggu orang itu, jika kita dapat melakukannya?

Ingin mempunyai teman yang setia? Jadilah teman yang setia terlebih dahulu bagi teman anda. Ingin mempunyai teman yang mengerti anda? Jadilah teman yang mengerti mereka terlebih dahulu.

Mungkin kita terpisah oleh ribuan mil lautan. Apa yang dapat kita lakukan bagi teman kita? Berdoalah bagi mereka.

Jadilah seorang teman sejati, maka kamu akan mendapatkan teman sejatimu.

Semoga renungan ini bermanfaat,
Regards


Andrew Kawilarang

8 KECANTIKAN SEORANG MUSLIMAH


1. Kecantikan perempuan ada dalam iman taqwanya yang menyejukkan
mata kaum laki-laki.

Seorang perempuan yang menghias jasmaninya dengan iman da taqwa akan
memancarkan cahaya surga. Dengan kepatuhannya menjalankan ibadah, ia akan memesona. Yang kuasa akan memberikannya kecantikan abadi, magnet alami. Tak perlu kosmetik, parfum atau penampilan berlebih, laki-laki akan tertarik padanya.

2. Kecantikan perempuan ada pada kehangatan sikapnya yang mampu
menggetarkan sensifitas dan kecintaan pria Secara umum laki-laki memang responsif terhadap perempuan yang bagus fisiknya. Tapi ketertarikan itu tak kekal, bisa membuat laki-laki bosan. Kehangatan kasih sayang dan cinta kasih yang tuluslah yang akan membuat sang pria nyaman berada di sisinya. Tak bisa melupakannya.

3. Kecantikan Perempuan ada pada kelembutan sikapnya Kelembutan bukan berarti lembek dan manja. Kelembutan seperti roti. Meskipun sedikit, tapi mengenyangkan. Dari toko roti manapun roti berasal, ia tetap lembut. Jadi perempuan dari suku manapun bisa tetap lembut, pada pasangannya, pada anak-anaknya. Asalkan ia mau berusaha.

4. Kecantikan perempuan berada dalam pandangannya yang teduh dan
suaranya yang hangat. Walau mata tak seindah bintang kejora, setiap perempuan bisa memiliki mata embun. Teduh. Sejuk. Tak gampang emosi. Menyikapi tingkah laku
sekitarnya secara bijak. Ia selau berprasangka baik. Perkatannya bukan pisau yang menikam. Perkataannya adalah bara yang menyalakan semangat di dada. Tak ada kata sia-sia yang terucap dari bibirnya.

5. Kecantikan perempuan berada dalam senyumannya yang menambah kecantikannya dan membuat gembira hati orang yang melihatnya Senyum adalah sedekah. Murah senyum tanpa bermaksud menggoda apalagi berlebihan bisa membuat wajah indah. Meskipun berwajah rupawan, tapi jika malas tersenyum, hanya aura negatif yang akan ditangkap oleh orang-orang di sekitarnya

6. Kecantikan perempuan berada pada intelektualitasnya Ukuran intelektual bukan pada gelar sarjananya atau di mana ia pernah menuntut. Banyak ilmu-ilmu yang bisa dipungut dari sekitar, yang membuat si perempuan mejadi cerdas. Kehidupan adalah sekolah yang tak pernah tamat sebelum ajal menjelang. Tak ada sekolah untuk menjadi istri yang baik. Tak ada universitas yang melahirkan ibu yang baik.
Ruang dan waktulah yang akan menempa perempuan mejadi istri dan ibu
yang baik.

7. Kecantikan perempuan berada pada seberapa jauh pengetahuannya akan tanggung jawabnya terhadap keluarga, rumah, anak-anak , masyarakat dan umat manusia Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Seberapa jauh pengetahuan seorang perempuan akan terlihat dari tingkah laku keluarganya. Ia selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Mengambil peran penting dalam rangka memperbaiki lingkungan. Lihatlah laki-laki sukses di jagat raya. Dibalik kesuksesannya, pasti ada perempuan tangguh di menemani. Menjadi pendukung nomor satu, tempat kembali saat sang pahlawan lelah berjuang.

8. Kecantikan perempuan berada pada kemampuan dan keinginannya untuk
memberi.
Orang bisa miskin harta, tapi ia bisa kaya hati. Selalu memberi, tanpa mengharap imbalan yang berarti. Ia senang ketika orang lain senang. Ia sedih ketika orang lain sedih. Kemurahan hatinya membuat wajahnya bersinar. Membuat ia selalu dirindukan, meskipun sosoknya biasa-biasa saja. Mungkin masih banyak kecantikan lain yang tercecer. Tapi dengan kecantikan-kecantik an ini, perempuan manapun bisa tampil memikat. Mudah caranya, murah biayanya. Satu hal yang paling penting, kecantikan-kecantik an ini sifatnya abadi. Akan dikenang meskipun si perempuan telah tiada. Tidak seperti kecantikan lahiriah yang sementara. Setelah tua, ketika senja
menyapa, ia tak menarik lagi. Manakah yang akan Anda pilih ? Kecantikan sementara atau kecantikan abadi?

Sumber: “Ya Ma’syaru Ar-Rijaal, Rifqan bin An-nisaa

Jangan Merasa Diri paling Shaleh


”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS, al-Hujurat [49]: 13)

Dua orang laki-laki bersaudara. Mereka sudah yatim piatu sejak remaja. Keduanya bekerja pada sebuah pabrik kecap.

Mereka hidup rukun, dan sama-sama tekun belajar agama. Mereka berusaha mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin.

Untuk datang ke tempat pengajian, mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah Sang ustadz. jaraknya sekitar 10 km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, jabatannya naik, dia menjadi kepercayaan sang direktur. Dan tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki. Dia mendapatkan bonus karena omzet perusahaannya naik.

Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turut sang kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.

Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji ke rumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a.

Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, ” Dik, sesungguh ketidak mampuan kita menghapal quran, hadits dan bacaan doa. bisa jadi karena hati kita kurang bersih.. “

Sang adik mengangguk, hatinya terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:
“Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu,
Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku,
Jadikan Kakakku selalu dalam lindungan dan cinta-Mu,
Bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku
di dunia dan akhirat.”

Sang kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya.Dia telah salah menilai adiknya. Tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya.

Kekayaan, kemiskinan, kebaikan, keburukan dan setiap musibah yang menimpa manusia merupakan ujian dari Allah swt. yang diberikan kepada hambanya. Itu bukan ukuran kemuliaan atau kehinaan seseorang. Janganlah bangga karena kekayaan dan janganlah putus asa karena kemiskinan.

Cerita ini begitu menyentuh , semoga dapat menjadikan hikmah bagi kita semua ...

"Teruntuk Saudara Seimanku…"

1. Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia…. Allah tau betapa kau telah berjerih payah.

2. Jika kau telah menangis sekian lama dan hatimu terasa perih… Allah telah menghitung dentingan air matamu.

3. Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menanti sesuatu dan waktu serasa berlalu… Allah sedang menanti bersamamu.

4. Jika kau MERASA SENDIRIAN dan Saudara-Saudaramu SIBUK dengan banyak urusan… Allah senantiasa berada di dekatmu.

5. Ketika kau berpikir, kau sudah mencoba segalanya dan tak tau harus berbuat apa lagi… Allah selalu punya jawabnya.

6. Ketika segala sesuatu tidak masuk akal dan kau merasa sangat tertekan… Allah mampu menenangkanmu.

7. Jika kau merasa ada jejak-jejak harapan terbesit di hatimu… Allah sedang berbisik kepadamu.

8. Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kamu merasa ingin mengucap syukur… Allah telah memberkahimu.

9. Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mempunyai mimpi untuk digenapi… Allah telah membuka dan memanggilmu dengan namamu.

10. Ketika sesuatu yang indah terjadi dan engkau dipenuhi ketakjuban… Allah telah tersenyum padamu.

Ingatlah Saudaraku…

Dimanapun engkau, kemanapun engkau dan kapanpun engkau menghadap… Allah TAU !!!

Mari mendekat pada Alloh lebih dekat. Agar tunduk kala yang lain angkuh. Agar teguh kala yang lain runtuh. Agar tegar kala yang lain terlempar. Rapatkan Shaf!, Bangkitkan Ghiroh-mu (semangat) demi Dien (Agama) kita Islam yang mulia serta jangan futur dan terlena dalam dunia yang penuh badai fitnah dan syahwat serta Kemusyrikan dan Kemaksiatan juga penuh dengan Fatamorgana ini, marilah kita mendekatkan diri kepada Allah Rabb kita yang menciptakan kita dan mematikan kita. ALLAHU’ AKBAR. Mari kita bersama berlomba-lomba meraih Shirathul Mustaqiem (Jalan yang lurus) yang membawa kita kepada jalan Allah Ta’ala jangan melalui jalan yang tidak diridhai Allah Azza Wa Jalla karena akan mendapatkan adzab-Nya yang sangat pedih.

Wallohu’ Ta’ala ’Alam Bish Showab

Wanita yang Aku Sayangi


Wanita yang aku sayangi
Adalah pencinta Tuhannya
Yang mengalir cinta,takut dan harap
Yang menguasai perjalanan penghidupannya
Dari waktu ke waktu, dari hari ke hari
Sehingga perjanjian di antara jasad dan nyawanya berakhir…

Wanita yang aku rindui
Adalah wanita yang di mata dan wajahnya terpancar sinar Nur
Ilahi
Lidahnya basah dengan Dzikrullah
Di sudut hati kecilnya sentiasa membesarkan Allah

Wanita yang aku cintai
Yang menutup auratnya dari pandangan lelaki ajnabi
Kehormatan dirinya menjadi mahal nilainya
Disanjung tinggi penduduk langit dan bumi

Wanita yang aku impikan
Adalah yang mendekatkan hatiku yang telah jauh
Kepada Ar-Rahman dan Ar-Rahim
Namun aku tidak ada di sana
Kerana aku dilamar oleh kebendaan dunia

Wanita yang aku kasihi
Yang bersyukur pada apa yang ada
Yang bersabar pada apa yang tiada
Cinta pada hidup yang sederhana yang tidak bermatakan benda

Wanita yang aku sukai
Menjadi dian pada dirinya sendiri
Menjadi pelita untuk putera-puteri yang bakal dilahirkan
Untuk menyambung perjuangan di belakang hari

Sesungguhnya
Wanita yang selalu berada di dalam doaku
Adalah diriku, dirimu dan seluruh kaum Hawaku…

Menggapai Istiqomah


Seorang kontraktor terlihat datang ke tempat seorang kyai, selain ingin bersilaturahim kepada kyai tersebut, iapun ingin menanyakan sebuah hal yang lama terpendam dalam fikirannya, yakni menjaga istiqomah.

“Alhamdulillah kyai, dalam urusan pekerjaan, mendapatkan proyek Allah memberi kemudahan dan kelancaran kepada saya, bahkan proyek – proyek yang di mata rekan bisnis saya sulit, kalau saya yang maju, biasanya bisa goal. Hal ini karena satu kata yang saya pegang kyai, “saya tetap semangat dan tak mau menyerah” kyai ?” ungkap kontraktor.

”Bagus kalau begitu.....” jawab kyai.

”Namun dalam hal ibadah, ternyata tak semudah yang saya bayangkan. Seringkali sudah berusaha bersemangat diri untuk melakukan sebuah ibadah, namun ujung – ujungnya tidak bisa istiqomah.” ungkap kontraktor.

”Lantas bagaimana ?” tanya kyai.

”Ya itu kyai, bagaimana saya bisa tetap istiqomah ?” tanya kontraktor.

Setelah mendengar pertanyaan kontraktor, kyaipun terdiam sejenak. Setelah berdiam diri sebentar, ia mulai berbicara.

”Kemarin, saya kedatangan tamu seorang bupati di sini, setelah ngobrol ngalor ngidul, katanya ia mau membangun jalan di daerah sini, dan ia mau tenderkan proyek jalan tersebut, gimana kamu mau ga ?” tanya sang kyai.

”Yah...mau sekali kyai. ”, jawab si kontraktor dengan sumringah.

”Ya, tapi proyek itu tetap ditenderkan secara terbuka, pakai e-auction kalau ga salah, bilangnya.” lanjut kyai.

”Ya, ga apa – apa kyai, saya sudah terbiasa dengan e-auction”, jawab kontraktor dengan lebih sumringah.

Suasana kemudian agak diam, si kontraktorpun dalam diamnya terlihat lebih segar dan sumringah. Setelah agak lama, rupanya kontraktor agak tersadar kenapa sang kyai malah ngobrol proyek, padahal ia menanyakan perihal istiqomah.

”Ngapunten kyai, terus pertanyaan saya yang tadi tentang istiqomah gimana ?” si kontraktor mulai menanyakan lagi.

”Sebenarnya kamu sendiri sudah bisa menjawab, namun kamu tidak menyadarinya.” jawab kyai.

”Begini... kamu bisa tetap bersemangat dalam mengerjakan sebuah proyek, bahkan proyek yang sulitpun bisa kamu atasi, padahal saya yakin tidak semua orang bisa mengerjakan proyek tersebut, kenapa ?” tanya sang kyai.

”Ya...imbalan keuntungan kyai” jawab kontraktor.

”Nah itu jawabannya....., selama mengerjakan proyek kamu mesti tidak melihat sulitnya pekerjaan karena visimu ingin menghasilkan keuntungan setelah proyek tersebut terselesaikan.

Kalau kamu beribadah, masih melihat sebagai beban, bukan dibalik ibadah itu sendiri selamanya kamu tidak akan bisa istiqomah sama halnya kamu mengerjakan proyek penglihatanmu kepada proyek itu sendiri bukan imbalan keuntungan yang akan didapat.

Namun ketika penglihatanmu dibalik pekerjaan itu, maka pekerjaan itu menjadi mudah dan menyenangkan. Ketika ibadahmu dijadikan sarana untuk menggapai keluhuran dari Allah maka, ibadah tidak terasa sebagai beban namun anugerah, dan anugerah istiqomah akan hadir dengan sendirinya.” ungkap sang kyai.


Mendengar uraian itu, si kontraktor manggut – manggut, namun kemudian bertanya, ” Saya belum mengerti kyai ?”

Sejenak kemudian kyaipun berkata,

”Kalau kamu mengejar yang ratusan juta bahkan miliaran rupiah kamu bisa semangat, konsisten, kenapa menjaga yang lebih besar daripada itu tidak bisa ? padahal dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda,'Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya'.”


Wallahu a’lam.